Rapid Test COVID-19, Kapan Kita Perlu Test?

Parahitanews.com – Saat ini, Coronavirus disease atau yang lebih dikenal dengan COVID-19 menjadi momok yang sangat menakutkan bagi penduduk dunia, karena pola penyebaran penyakit yang cepat dan massif, disertai angka kematian yang cukup tinggi. Sebenarnya COVID-19 merupakan penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya (self limiting disease)bila daya tahan tubuh kita bagus. Akan tetapi, kita tetap harus mematuhi anjuran pemerintah untuk memutus mata rantai penularan Covid.

COVID-19 adalah infeksi pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh Coronavirus tipe SARS CoV-2, disertai kode 19 untuk menandakan bahwa penyakit ini ditemukan pertama kali tahun 2019 dari daerah Wuhan, China. Virus ini termasuk dalam kelompok virus penyebab wabah penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang pernah merebak di tahun 2002 dan MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome – Coronavirus). Secara umum gejala yang akan ditemui adalah flu-like syndrome yakni demam, batuk, nyeri telan, pilek.

Di Indonesia, berdasarkan sumber dari laman Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Indonesia, gejala terbanyak yang ditemukan adalah batuk (77.2%), demam atau riwayat demam (53.3%), sesak napas (43.7%), lemas (34.8%), sakit tenggorokan (32.4%), pilek (31.5%), sakit kepala (24%), mual (20.5%), kram otot (17.3%), menggigil (11.7%), diare (8.8%), sakit perut (7.7%).

Saat ini, pemeriksaan rapid test antibodi Covid digelar secara massal oleh pemerintah, untuk mengetahui kelompok mana yang terinfeksi Covid, sehingga dapat dilakukan tindakan selanjutnya untuk memutus mata rantai penularan virus ini. Pemeriksaan rapid test antibody adalah tes cepat untuk mengetahui ada tidaknya antibodi terhadap virus SARS CoV-2. Perlukah kita melakukan pemeriksaan rapid test antibodi ini? Bila Anda memiliki faktor resiko di bawah ini, Anda disarankan untuk melakukan pemeriksaan rapid test, antara lain :

  • Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal dalam 14 hari terakhir sebelum timbul gejala
  • memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal COVID-19 di Indonesia dalam 14 hari terakhir sebelum timbul gejala
  • Riwayat kontak dengan pasien konfirmasi atau probabel COVID-19 dalam 14 hari terakhir sebelum timbul gejala

Baca juga : UJI LATIH JANTUNG MODALITAS PENTING PENYAKIT JANTUNG KORONER

Menurut dr. Sulianty, SpPK, salah seorang penanggung jawab Parahita Diagnostic Centre, pemeriksaan rapid test bisa menggunakan sampel serum (darah vena yang diputar) atau darah kapiler. Akurasi hasil akan lebih tinggi dengan menggunakan sampel serum. Hasil rapid test ini berupa Reaktif atau Non Reaktif. Hasil Non reaktif tidak menyingkirkan kemungkinan terinfeksi SARS CoV-2 sehingga masih beresiko menularkan ke orang lain. Lakukan pemeriksaan ulang rapid test antibodi setelah 10 hari. Tetap lakukan sosial / physical distancing serta perilaku hidup bersih dan sehat.

Hasil rapid test reaktif menunjukkan orang tersebut sudah pernah terpapar virus. Dapatkan informasi lebih lanjut, hubungi Parahita cabang terdekat.
Getting Better All The Time with Parahita.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *