DIARE PADA ANAK

Parahitanews.com – Diare merupakan masalah kesehatan yang bisa menyerang siapa saja, terutama anak-anak. Diare ditandai dengan peningkatan frekuensi buang air besar (3 kali atau lebih dalam sehari), dengan konsistensi tinja yang lunak / encer, dapat disertai lendir dan darah.

Menurut Dr. Elisa, Sp.A(K) sebagian besar diare pada anak disebabkan oleh infeksi virus (Rotavirus), walau bisa juga akibat infeksi bakteri atau parasit. Penularan infeksi ini terjadi karena kebiasaan makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu atau kebiasaan memasukkan tangan/barang ke dalam mulut. Selain karena infeksi, diare juga dapat disebabkan akibat keracunan makanan, gangguan penyerapan makanan serta efek samping obat.

Kita harus segera mengambil tindakan saat buah hati mengalami diare, karena diare yang dibiarkan terus menerus tanpa penanganan yang tepat, dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan) berat yang dapat menyebabkan kematian. Dehidrasi yang terjadi dapat disertai penurunan kadar gula darah (hipoglikemia) akibat asupan cairan yang kurang atau muntah berlebihan.

Kenali tanda-tanda dehidrasi dan hipoglikemia pada anak yang mengalami diare, antara lain :

  1. Anak tampak lemas dan cenderung tidur terus, atau malah tampak minum dengan rakus
  2. Ubun-ubun cekung
  3. Mata tampak cowong (cekung) dan tidak ada air mata saat menangis
  4. Demam
  5. Turgor kulit saat dicubit kembali lambat, > 2 detik
  6. Tidak ada kencing/ lebih sedikit dari biasanya (anak umur <2 tahun kencing minimal 4 jam sekali, umur >2 tahun kencing minimal 6 jam sekali).

Segera bawa anak ke sarana kesehatan, apabila anak muntah terus, tampak lemas, sulit makan dan minum, diare berdarah, dan bertambah parah.

Langkah awal yang bisa dilakukan oleh ibu di rumah adalah, memberikan ASI lebih sering (untuk bayi berusia < 6 bulan). Untuk bayi berusia > 6 bulan, berikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang sesuai usianya, dengan porsi kecil tetapi lebih sering. Pemberian makanan/minuman dilakukan  dengan menggunakan sendok.Setelah diare berhenti, pemberian makanan tambahan diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan anak.

Saat diare, cairan tubuh dan elektrolit banyak terbuang. Untuk itu, segera berikan larutan oralit yang merupakan campuran glukosa dan garam elektrolit, untuk menggantikan cairan tubuh dan elektrolit yang terbuang. Pemberian oralit dilakukan sampai diare berhenti. Bila anak muntah setelah minum oralit, tunggu 10 menit dan berikan kembali sedikit demi sedikit. Bila anak menolak oralit karena rasanya tidak enak, maka ibu bisa menggantikan dengan sup atau minuman manis lainnya.

Jangan memberikan obat atau antibiotika apapun kecuali sesuai petunjuk dokter. Dalam tatalaksana diare pada anak, dilakukan pemberian Zinc yang dapat mengurangi lama diare serta dapat mencegah kambuhnya diare. Konsultasikan dengan dokter untuk dosis pemberian Zinc.

Beberapa pemeriksaan penunjang mungkin perlu dilakukan pada anak dengan diare. Pemeriksaan Hematokrit dapat mendeteksi adanya kekurangan cairan (dehidrasi). Dokter mungkin akan meminta pemeriksaan kadar elektrolit serta glukosa darah. Pemeriksaan feses lengkap, darah samar, panel pencernaan, serta kultur feses dilakukan untuk menentukan penyebab diare.

Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Kita bisa mencegah terjadinya diare, dengan menerapkan Perilaku hidup bersih dan sehat (cuci tangan sebelum makan/setelah dari toilet), memakai air bersih untuk memasak,  menjaga kebersihan lingkungan serta pemberian ASI.

Konsultasikan ke dokter bila buah hati Anda diare. Parahita Diagnostic Center siap membantu mengetahui penyebab diare buah hati Anda, dan memonitor kondisi kesehatan buah hati Anda saat diare. Diare sembuh, semua senang. Untuk informasi lebih lengkap, silahkan hubungi Parahita cabang terdekat dengan Anda. Keep Healthy and Happy. (Ds)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *