BEDANYA DOKTER SINGAPURA DENGAN DOKTER KITA

Screen Shot 2016-08-02 at 2.32.05 PM

Parahitanews.com, Surabaya – Prof. Dr Boediwarsono, Guru Besar Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Unair dan seabreg gelar di belakang namanya dan terkenal dengan sapaan Prof. BW, bersahaja dan dalam menjalankan tugas sebagai dokter selalu menggunakan hati nurani, dalam menghadapi para pasiennya itu, kini menyorot tentang Kualitas SDM dokter Indonesia yang masih kalah, dibanding dengan dokter di Negara Singapura. Ikuti Wawancara Khusus, dengan Pemimpin Redaksi parahitanews.com, Anang Prasongko (AP) dan Prof. dr. Boediwarsono (Prof BW), Minggu (10/7/2016), inilah petikan wawancaranya :

AP : Selamat pagi Prof BW, Tujuan Kolaborasi Singapore Oncology Consultant dengan Medical Oncology Clinic RS Darmo Surabaya itu berlangsung kapan ?

Prof BW : Sudah sejak tahun 2000 dengan tujuan utama, untuk meningkatkan pelayanan pasien onkologi, agar diagnosis pasti, pengobatan tepat dan follow up sempurna.

AP : Apakah Kolaborasi tersebut berlangsung secara periodik dan siapa saja yang diuntungkan ?

Prof BW : Kolaborasi, selamanya dan tidak mengikat. Dalam hal ini semua diuntungkan. Untuk pasien, mereka mendapatkan penanganan yang tepat dan akurat, untuk saya, banyak mendapatkan transfer ilmu yang praktis dari negara maju dan untuk dokter Singapore mendapat keuntungan pengalaman sebab pasien dari Indonesia sangat beragam dan otomatis juga finansial.

AP : Berapa dokter yang ikut kolaborasi pada saat itu ?

Prof BW : Banyak dokter Singapore yang ikut dan setahu saya di Indonesia cuman dua yang satu dari Jakarta.

AP : Negara lain ada yang ikut ?

Prof BW : Negara lain yang ikut, India, Vietnam dan ada lagi Mungkin Prof Ari Harianto Jakarta.

AP : Apakah Negara Singapura maju di dunia kedokteran ?

Prof BW : Singapore sangat maju setara dengan Negara Jepang, Australia, Jerman, Inggris dan Amerika. Segala peralatan medis super lengkap dan dokternya brilliant sekali.

AP : Bagaimana dengan dokter di Singapore ?

Prof BW : Dokternya scientific, communicative, informative dan Professinol. Setiap saat, saya bisa kontak mereka.

AP : Bidang Cakupan Oncology itu apa saja ?

Prof BW : Oncology mencakup semua pasien kanker dan kemoterapi kanker, tidak bisa diberikan sekali, minimal 6 cycle. Kalau pasien harus di Singapore terus, pasti mahal sekali, makanya Tiga kali di Singapore dan tiga kali di Indonesia.

AP : Mengobati pasien dengan jenis penyakit apa yang paling sulit ?

Prof BW : Mengobati pasien, yang paling sulit, adalah pasien kanker baik diagnosis, maupun terapinya, karena itu kalau ada kesulitan saya langsung kontak Singapore.

AP : Apakah di Singapore ada Contact person, bila Prof ada kesulitan untuk menangani suatu penyakit, dan bagaimana responnya ?

Prof BW : Dari Singapore, ada kontak person membatu pasien terutama yang belum pernah ke Singapore, dan bila saya Tanya langsung direspon.

AP : Rumah Sakit yang terbesar di Singapore ?

Prof BW : Kelompok Parkway yaitu Rumah Sakit Mount Elizabeth, Gleneagles dan ada lagi tapi saya lupa.

AP : Jadi tidak salah, apabila orang memilih, RS Singapura karena peralatan canggih dan keahliannya. Indonesia bisa mengejar seperti Singapura ?

Prof BW : Sangat tepat, kendalanya cuman mahal, kalau dibanding Indonesia dengan cara pengobatan dan obat yang sama harganya sepuluh kali lipat dan tampaknya Indonesia belum memungkinkan akan seperti Singapura.

AP : Bagaimana tanggapan Prof BW tentang obat herbal ?

Prof. BW : Kalau di Singapore, tidak ada kompromi dengan obat herbal, tapi saya pribadi masih menghargai dan menggunakan sebagai obat komplemeter bukan alternatif.

AP : Selama menjalankan praktek dokter, tingkat kesembuhan pasien kanker berapa persen ?

Prof BW : Tergantung, banyak faktor dan yang penting, tergantung finansial dan stadiumnya dari pasien. Kalau finansial okay dan stadium kurang dari dua, bisa mencapai 90 persen dapat disembuhkan. Sayangnya sebagian besar, rakyat kita in poor condition dan datangnya ke dokter sudah stadium lanjut, jadi the best treatment is truly palliative only.

AP : Bagaimana Penilaian Prof BW, tentang dokter di Indonesia dan sarana penunjang lainnya, apa sudah memadai ?

Prof BW : Kualitas dokternya, no comment, sarana panunjang kurang, pemerintah tidak menunjang, sosial ekonomi rakyat kurang dan kesadaran sehat juga kurang.

AP : Jadi Sarana dan SDM dokter di Indonesia kurang lengkap?

Prof BW : Lengkap sekali sih belum, tapi hampir lengkap ada, tapi sumber daya manusianya, masih kurang memadai. Kalau untuk seperti Singapore sih tidak mungkin, tapi sebagai dokter harus tetap berusaha mumpuni, dengan sarana yang ada, jadilah dokter yang brilliant dan punya hati nurani, berpijak pada pola pikir low tech high touch.

AP : Saran dan pesan kepada para dokter di Indonesia ?

Prof BW : Sesuai dengan kondisi di Indonesia, dokter harus pandai dan punya hati nurani yang merawat pasien seutuhnya, berpola pada biopsikososiospiritual, jadi sebaiknya low tech tapi high touch dan jangan terlalu mendewakan robot diagnosis. Selama ini satu-satunya laboratorium yang bisa berkolaborasi dengan dokter luar negeri adalah laboratorium Parahita.

***AP


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *