SEMINAR ILMIAH “UPDATE IN THE MANAGEMENT OF AUTOIMMUNE DISEASES”

Parahitanews.com – Pada hari Sabtu tanggal 28 April 2018, Parahita Diagnostic Center bersama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Surabaya dan Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik cabang Surabaya, menggelar seminar ilmiah yang berjudul UPDATE IN THE MANAGEMENT OF AUTOIMMUNE DISEASES di Hotel Garden Palace, Surabaya.

Seminar yang dihadiri oleh para klinisi di Surabaya dan sekitarnya, menghadirkan narasumber sebagai berikut: Prof. dr. H. Boediwarsono, Sp.PD-KHOM, PGD. PalMed (ECU), FINASIMProf. Dr. dr. H. Agung Pranoto, Sp. PD, KEMD, M.Kes, FINASM dr. Frans O.H Prasetyadi, Sp.OG (K) dan dr. Sulianty, M.Ked (ClinPath) Sp.PK  serta  Dr. Puspa Wardani, dr., Sp.PK (K) sebagai moderator.

Penyakit autoimun dapat terjadi pada siapa pun, namun lebih banyak terjadi pada wanita usia muda. Ini merupakan tantangan, karena wanita pada usia produktif tentu ingin mengandung dan melahirkan buah hatinya. Paradigma dahulu, bahwa wanita yang menderita penyakit autoimun tidak dianjurkan untuk hamil, karena berbahaya bagi si ibu dan janin yang dikandungnya. Tetapi sekarang, dengan metode diagnostik dan pengobatan yang sudah canggih, wanita penderita penyakit autoimun dapat menikmati masa kehamilannya hingga lahirnya sang buah hati. Menurut dr. Frans O.H Prasetyadi, Sp.OG (K), wanita yang menderita penyakit autoimun boleh hamil, bila sudah mencapai remisi (penyembuhan). Beliau menjelaskan peranan  pemeriksaan laboratorium yang dilakukan sejak awal kehamilan, sampai menjelang kelahiran, untuk memastikan kondisi ibu dan janinnya dalam keadaan baik. Beliau juga memberikan tips penting bagi wanita hamil dengan penyakit autoimun, agar menerapkan pola hidup sehat serta rutin memeriksakan kehamilannya ke dokter.

Prof. Dr. dr. H. Agung Pranoto, Sp. PD, KEMD, M.Kes, FINASM  sebagai seorang pakar diabetes, memaparkan bahwa ternyata jumlah penderita penyakit diabetes seperti fenomena “gunung es” dimana baru separuh dari jumlah penderita diabetes yang terdiagnosa. Sebagian besar tidak mengetahui bahwa gula darahnya tinggi, karena penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang spesifik, sampai akhirnya timbul komplikasi akibat gula darah yang selalu tinggi. Karena itu, orang yang memiliki faktor resiko (usia > 45 tahun, riwayat keluarga, obesitas, merokok, dll) sebaiknya melakukan pemeriksaan gula darah atau HbA1c untuk memastikan apakah menderita diabetes atau tidak.

Salah satu faktor penyebab terjadinya diabetes adalah penyakit autoimun yang merusak insulin dan sel pankreas, yang sekarang sudah dapat diketahui dengan pemeriksaan darah.

Yang terpenting bagi penderita diabetes adalah pengendalian kadar gula darah agar berada dalam rentang nilai normal. Ini akan mencegah terjadinya komplikasi seperti gagal ginjal, serangan jantung, buta atau kaki busuk. Hal ini bisa dicapai dengan pengendalian pola makan, olahraga rutin, serta teratur minum obat untuk mengontrol gula darah. Dokter dapat mengetahui baik buruknya pengendalian gula darah pasien diabetes dan keberhasilan pengobatan, dengan pemeriksaan laboratorium.

Paramater terbaru untuk mengetahui pengendalian gula darah jangka pendek yaitu Glycated albumin, yang dapat melihat perubahan gula darah lebih cepat (dalam waktu 2-4 minggu).

Prof. dr. H. Boediwarsono, Sp.PD-KHOM, PGD. PalMed (ECU), FINASIM telah membahas aplikasi klinik pemeriksaan laboratorium untuk  Penyakit Autoimmune. Penyakit Autoimmune adalah sekelompok penyakit yang ditandai oleh adanya antibodi atau  lymphocyte T yang bereaksi dengan antigen tubuh sendiri,  bersifat agresif dan menimbulkan penyakit yang dinamakan penyakit  autoimmune. Penyakit yang tergolong autoimmune  Organ Specific Autoimmune Diseases  Organ Non-specifis Autoimmune Diseases. Untuk melakukan pemeriksaan ANA Test harus diketahui secara klinis  curiga pada penyakit autoimmune tertentu. Tanpa kecurigaan klinis mustahil untuk membuat dignosa penyakit  autoimmune.

Baca Juga : RESIKO GANGGUAN PENDENGARAN DI TEMPAT KERJA

Berikutnya, dr. Sulianty, M.Ked (ClinPath) Sp.PK membahas tentang pemeriksaan ANA test dan macam-macam pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosa penyakit autoimun. Pemeriksaan ANA sebaiknya dilakukan hanya pada pasien dengan kecurigaan kea rah penyakit autoimun, dan interpretasi hasil pemeriksaan ANA harus dilakukan secara menyeluruh.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *