RESIKO GANGGUAN PENDENGARAN DI TEMPAT KERJA

Parahitanews.com – Beberapa pekerjaan berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran. Salah satunya pekerja yang kerap terpapar dengan suara bising dalam waktu lama dan berkelanjutan.  Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan, Kepala Leher, dr Stephani Linggawan, menyebut orang-orang yang bekerja di diskotik, berada di tempat bermain yang suaranya keras, maupun menggunakan headset dengan volume tinggi, juga beresiko menderita gangguan pendengaran.

“Sebenarnya Menteri Tenaga Kerja sudah mengeluarkan surat keputusan berisi ketentuan ambang batas suara yang aman. Pemilik perusahaan harus memperhatikan keselamatan pekerja dan melindungi mereka, ” beber alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini.

Faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran adalah trauma karena suara keras mendadak. Misalnya, ledakan bom, yang berdampak terhadap telinga luar hingga pecahnya gendang telinga. Atau mengalami kecelakaan yang membuat organ pendengaran terluka.

Dr. Stephani menjelaskan gejala terganggunya telinga dalam, diantaranya pendengaran berkurang, ada dengung nada tinggi, kadang juga disertai dengan vertigo (perasaan berputar). Gangguan dapat terjadi pada salah satu telinga saja. Seseorang yang terbiasa terpapar suara keras, ambang batas pendengarannya akan naik ”Terbiasa mendengar suara keras; saat ada suara pelan, jadi  kurang mendengar,” terang beliau.

Dr. Stephani menerangkan bahwa intensitas suara yang bisa ditangkap telinga manusia dengan baik adalah 0-25 desibel. Sementara, suara dengan intensitas 25-40 desibel akan  mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran ringan. Lebih dari itu, yakni 40-55 desibel bisa membuat seseorang mengalami gangguan pendengaran tingkat sedang.  ”Yang parah adalah bila terpapar bunyi lebih dari 90 desibel, bisa berujung pada gangguan sangat berat,” lanjut beliau.

Sebagai tindakan antisipasi, dr.Stephani menyarankan agar perusahaan hendaknya mengatur jadwal shift  pekerjanya. Cara ini bisa mengurangi pekerja terpapar suara bising secara kontinu. “Pengaturan jadwal kerja  ini wajib dilakukan demi kesehatan dan keselamatan pekerja,” kata dokter yang praktek di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya ini.

Baca Juga : BUANG LEMAK, BONUS LANGSING

Bila memang sudah terlanjur mengalami gangguan pendengaran, disarankan segera memeriksakan diri ke dokter spesialis THT.  Untuk menegakkan diagnosa gangguan pendengaran, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan terlebih dahulu. Dengan begitu diketahui tingkat keparahannya.  “Bila memang diperlukan, dokter akan menyarankan penggunaan alat bantu dengar,” jelas dokter yang hobi pijat relaksasi ini. Dokter mungkin akan memberikan beberapa jenis obat-obatan, diantaranya antibiotik, anti radang maupun vitamin untuk saraf pendengarannya.

”Perusahaan disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pendengaran para pegawainya secara rutin. Upaya ini bisa mendeteksi dini gangguan pendengaran yang dialami pekerja, yang dapat menurunkan produktivitas pekerja ‘ lanjut dr.Stephani. (An/Ds)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *