KENALI KEJANG DEMAM, TENANG SAAT BERTINDAK

Parahitanews.com – Mendapati suhu tubuh anak meningkat saja, orang tua sudah panik. Apalagi bila disertai dengan kejang. Menurut Prof dr Darto Saharso SpA(K), sebanyak 5% anak akan mengalami kejang demam. Kejang demam dapat terjadi karena kenaikan drastis temperatur tubuh, yang umumnya disebabkan oleh infeksi. Kondisi tersebut merupakan respons khusus dari otak terhadap demam yang terjadi. ”Pada umumnya kejang demam dialami bayi usia 6 bulan hingga anak umur 5 tahun. Kejang demam jarang dijumpai pada bayi berumur kurang dari 6 bulan ataupun setelah anak berumur 5 tahun,” terangnya.

Jenis Kejang Demam

Ada 2 bentuk kejang demam. Yang pertama, yaitu kejang demam sederhana. Jenis kejang demam ini paling umum terjadi. ”Durasi kejang berlangsung kurang dari 15 menit. Kejang yang terjadi pada seluruh bagian tubuh ini tidak akan terulang dalam periode 24 jam,” papar Prof. Darto. Ciri-ciri anak yang mengalami kejang demam ini antara lain : mata mendelik atau terkadang berkedip-kedip, kedua tangan dan kaki kaku, terkadang diikuti seluruh tubuh mengejang. Saat kejang, anak tidak sadar dan tidak memberi respons saat dipanggil atau diperintah. Setelah kejang, anak sadar kembali.

Bentuk kejang demam yang kedua adalah kejang demam kompleks. ”Kejang demam kompleks ini terjadi lebih dari 15 menit pada salah satu bagian tubuh. Dan dapat terulang dalam 24 jam,” terang guru besar FK Unair ini.

Penyebab Kejang Demam

Menurut Prof. Darto, kejang demam dapat terjadi karena demam yang timbul secara mendadak. Demam dapat disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, misalnya infeksi saluran nafas atas. Tidak diketahui secara pasti mekanisme demam dapat menyebabkan kejang pada satu anak dan tidak pada anak lainnya. ”Namun diduga ada faktor genetik yang berperan. Artinya bila ada salah satu orang tuanya memiliki riwayat kejang demam, maka sang anak berpotensi mengalami hal yang sama,” paparnya. Suhu ambang terjadinya kejang demam bisa berbeda pada tiap anak. Ada anak yang mengalami kejang saat suhu tubuh mencapai 38° Celsius, ada pula anak yang baru mengalami kejang saat suhu tubuh mencapai 40° Celsius.

Penanganan Kejang Demam

Pada umumnya, anak dapat pulih seperti semula setelah mengalami kejang demam. Dengan catatan, orang tua jangan panik terlebih dahulu. Prof.Darto menjelaskan, pertolongan pertama untuk anak yang mengalami kejang demam adalah memasukkan obat anti konvulsan (anti kejang) melalui duburnya.  ”Karena itu, orang tua harus selalu menyediakan obat tersebut bila memang anaknya berpotensi kejang demam. Bahkan saat bepergian pun harus dibawa,” ucapnya.

Kemudian, posisikan anak di tempat yang aman. Baringkan anak dalam posisi miring agar makanan, minuman, muntahan, atau benda lain yang ada di dalam mulut keluar. Dengan begitu, anak terhindar dari bahaya tersedak. Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut. Memasukkan sendok, kayu, jari orangtua, atau benda lainnya ke dalam mulut, atau memberi minum anak yang sedang kejang, beresiko menyebabkan sumbatan jalan napas.  ”Bila lidah tidak tergigit, jangan memaksa untuk membuka mulut anak,” tegasnya.

Jangan berusaha menahan gerakan anak atau menghentikan kejang dengan paksa, karena dapat menyebabkan patah tulang. Amati apa yang terjadi saat anak kejang, karena ini dapat menjadi informasi berharga bagi dokter. Tunggu sampai kejang berhenti, kemudian bawa anak ke unit gawat darurat terdekat.  ”Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kejang demam. Salah satunya pemeriksaan darah dan urine,” imbuhnya.

Baca juga : LADIES, YUK LAKUKAN SADARI SEBULAN SEKALI

Pencegahan Terjadinya Kejang Demam

Menurut Prof. Darto, upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kejang demam pada anak, adalah dengan menjaga daya tahan tubuh anak agar anak tidak jatuh sakit. ”Jika daya tahan tubuh menurun, anak mudah terinfeksi virus atau bibit penyakit lainnya,” tuturnya. Selain itu, upayakan anak tidur yang cukup. Dan, jangan telat makan. ”Anak juga tak boleh emosi berlebihan,” paparnya.  ”Satu hal lagi, batasi anak menggunakan gadget. Ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa penggunaan gadget terus menerus dapat merangsang terjadinya kejang,” lanjutnya.

Kejang Demam : Apakah Berbahaya?

Kejang demam kompleks sering dihubungkan dengan meningkatnya risiko epilepsi dan kematian mendadak yang tidak terjelaskan pada anak (sudden unexplained death in childhood/SUDC). Tapi ini tidak terbukti. Faktanya, sebagian besar anak yang pernah mengalami kejang demam, tidak mengalami peningkatan risiko kematian di masa kanak-kanak ataupun dewasa.

Sebagian besar kasus kejang demam tidak menyebabkan komplikasi jangka panjang. Kejang demam sederhana tidak akan menyebabkan kerusakan otak, kesulitan belajar, ataupun gangguan mental. Selain itu, kejang demam bukan indikasi terjadinya penyakit epilepsi, yaitu kecenderungan kejang berulang akibat sinyal elektrik abnormal dalam otak.

Walaupun demikian, para orangtua hendaknya selalu waspada jika si kecil mengalami kejang, karena kejang dapat menjadi petanda adanya penyakit yang lebih serius, seperti meningitis (radang pada selaput pembungkus otak). Segera bawa anak Anda ke rumah sakit bila mengalami kejang yang disertai demam, meski hanya berlangsung beberapa detik, apalagi jika disertai gejala sesak nafas, leher kaku, muntah, dan anak tampak sangat mengantuk. (An/Ds)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *